Di atas tumpukan kayu itu terdapat jasad bocah lelaki yang siap dikremasi. Seseorang memegang obor berjalan perlahan. Setiap langkah seperti sedang mengumpulkan kekuatan. Air mata menetes. Obor menyentuh kayu yang diberi minyak. Seketika terbakar. Api menjelma tarian perpisahan. Benarkah setiap ingatan, agar kita bisa melepaskannya, harus membakarnya dan melarungnya ke ombak bernama waktu?
***
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kedua orang yang sudah merencanakan masa depan bersama. Dan pada akhirnya semua rencana yang sudah disusun rapi hanya berakhir seperti angin lalu saja. Awalnya aku selalu berpikir bahwa cinta akan selalu berakhir dengan bahagia, tapi seperti kata pepatah tidak semua cinta akan selamanya bahagia.
Baiklah, kilas cerita, suatu hari saat aku pulang dari kantor. Seseorang mengajakku untuk bertemu di sebuah kafe. Aku pun mendatangi kafe tersebut dengan suasana hati yang gembira karena sudah sebulan kita tidak bertemu. Sesampainya di sana aku melihat seorang lelaki sedang memandang ke arah jendela yang berada disampingnya. Ia seperti sedang menunggu seseorang. Aku tersenyum lebar saat mengetahui keberadaan lelaki tersebut.
“BIAN!” panggilku kepada lelaki itu. Ia pun membalasnya dengan senyuman. “Aku kelamaan ya, sorry ya.”
“Gapapa santai aja. Sebenernya ada yang ingin aku omongin ke kamu.”
“Apakah tidak perlu kita pesan minum dulu?”
“Aku sudah pesan. Kau pesan kapucino dengan sedikit gula dan banyak krim.”
“Dan sedikit es.”
“Ya, dan sedikit es, aku hampir lupa itu.”
“Baik, berarti kita bisa langsung ke topik pembicaraan yang sepertinya serius.”
“Iya, ini sangat serius.”
“…..”
“Lebih baik kita berjalan sendiri dulu untuk menemukan sebuah keputusan yang tepat.”
“Maksudnya?”
“Tia, kita putus.”
Sebuah kalimat yang tidak pernah kubayangkan akan keluar dari mulut lelaki itu. Kaget? Sedih? Sakit hati? Semuanya bercampur jadi satu. Hidupku menjadi berantakan dan rasanya aku tidak memiliki semangat untuk melakukan apapun.
Kapucino dengan sedikit gula, ohya dengan sedikit es, terpaksa kutinggalkan. Aku tak butuh penjelasan panjang dan lebar. Sebab, apapun penjelasannya, keputusannya tetaplah sama: Kami putus!
***
Aku selalu berusaha megalihkan perhatian dengan melakukan pekerjaan apapun. Malam hari adalah waktu yang paling sulit, bahkan hampir setiap malam aku menangis tersedu-sedu hingga tertidur. Kesedihanku kali ini sampai berdampak pada kesehatanku, dimana berat badanku yang menurun drastis, susah tidur, dan sering sakit kepala. Entah ini sudah minggu ke berapa yang terasa berat dan waktu berjalan dengan lambat.
Namun, aku tidak bisa selalu larut dalam kesedihan ini karena aku masih memiliki masa depan yang harus kucapai. Dalam proses pemulihan diri aku selalu mendapatkan support dari sahabatku yang bernama Naya.
“Sudahlah Tia kamu jangan sedih lagi cowo di dunia ini gak cuman ada satu aja,” kata Naya.
“Iya benar juga.”
“Aku gamau ya kamu sakit lagi cuma gara-gara Bian, lagian bisa-bisanya dia putusin kamu tanpa alasan yang jelas.”
“Udahlah Nay lagian aku udah mulai bisa move on kok.”
“Bagus deh kalo gitu, oiya kamu tau gak kita setelah ini bakal cuti satu minggu tau,” ucap Naya dengan semangat.
“Serius?”
“Beneran Tia.”
“Kebetulan banget aku pengen pergi ke Bali.”
“Ngapain ke Bali?”
“Mau melepas pikiran.”
“Ya sudah, nanti sore kita berangkat!”
“Sore?”
“Lihat, tinggal klik dan …. Taraaaa…kita dapat dua tiket lengkap dengan promo, hotel terbaik, akomodasi terbaik, dan destinasi terbaik untuk sahabatku yang paling baik!”
***
Bali adalah sempalan surga yang jatuh di Indonesia. Sebuah pulau yang indah dan penuh dengan keajaiban alam serta kaya ragam budaya. Pulau ini terkenal dengan pantainya yang cantik, reruntuhan pura kuno, sawah hijau yang terhampar luas, gadis-gadis yang memanggul sesajen, dan pegunungan yang menjulang tinggi.
Salah satu daya tarik terbesar Bali adalah pantainya yang menakjubkan. Siapapun akan betah di sana. Pantai-pantai di Bali sangat beragam dan semuanya memiliki keindahan yang luar biasa. Ada pantai-pantai yang terkenal seperti Kuta, Sanur, Seminyak, Nusa Dua, dan Jimbaran, yang semuanya menawarkan panorama matahari terbenam yang memukau. Selain itu, ada juga pantai-pantai yang lebih tersembunyi seperti Pantai Padang Padang, Pantai Bingin, dan Pantai Dreamland yang memiliki keindahan alam yang lebih liar.
Selain pantai, Bali juga memiliki banyak objek wisata yang menarik seperti pura-pura yang megah dan kaya sejarah seperti Pura Besakih, Pura Tanah Lot, dan Pura Uluwatu. Selain itu, Bali juga dikenal dengan keindahan alamnya yang terletak di daerah pegunungan seperti Gunung Batur dan Gunung Agung. Di sini, Anda dapat melakukan pendakian gunung dan menikmati pemandangan yang indah dari puncaknya.
Tidak hanya itu, Bali juga terkenal dengan budayanya yang unik dan kaya. Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengeksplorasi budaya Bali seperti menonton pertunjukan tari tradisional seperti Tari Kecak atau Tari Barong, belajar memasak makanan tradisional Bali, atau mengunjungi pasar seni dan kerajinan lokal di Ubud. Namun, langkah kakiku bersama karibku menuju ke sebuah upacara Ngaben.
“Permisi pak, saya mau tanya kira-kira orang-orang di sana lagi melakukan apa ya?” Tanyaku pada salah satu masyarakat sekitar.
“Oh itu Ngaben salah satu tradisi yang ada di Bali.”
“Kalo boleh tau Ngaben itu apa ya pak?”
“Ngaben itu apabila ada seseorang yang sudah meninggal dunia, ia harus dibakar di atas kayu atau bahasa lainnya itu kremasi.”
“Oh begitu.”
“Tujuan diadakannya Ngaben itu apa ya pak?”
“Dengan adanya Ngaben, keluarga dapat membebaskan arwah orang yang telah meninggal dari ikatan-ikatan duniawi menuju surga dan menunggu reinkarnasi. Menurut keyakinan umat Hindu di Bali, manusia terdiri dari badan kasar, badan halus, dan karma. Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yang disebut Panca Maha Bhuta yaitu pertiwi atau zat padat, apah atau zat cair, teja atau zat panas, bayu atau angin, dan akasa atau ruang hampa. Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakkan oleh atma atau roh. Ketika manusia meninggal, yang mati hanya badan kasarnya saja sedangkan atma nya tidak.”
“Jadi begitu ya asal usul dari Ngaben. Kami boleh mendekat?”
“Boleh, namun jangan sampai menganggu prosesinya ya?”
Aku mulai mengamati kegiatan tersebut. Perlahan-lahan, aku mulai melupakan luka dalam diriku. Aku melihat beberapa pihak keluarga melakukan ritual permohonan kepada Dewi Durga atau bisa disebut Ngulapin. Setelah itu dilakukan upacara Mabersih yaitu memandikan jenazah dirumah duka. Aku melihat bahwa semuanya dilakukan dengan hati-hati dan penghormatan yang besar terhadap arwah yang telah pergi.
Kemudian, pihak keluarga memberikan persembahan sesajen atau bebanten kepada jasad anak kecil tersebut. Puncak prosesi ini adalah pembakaran jenazah atau Ngeseng Sawa. Seorang ibu yang memegang obor dan mencoba maju perlahan diatas tumpukan kayu tersebut. Setelah obor membakar seluruh tumpukan kayu itu, tangisan yang tiada hentinya terus bersenandung. Aku melihat betapa beratnya bagi ibu itu untuk melepaskannya. Namun, ia juga bisa merasakan kehangatan dan dukungan dari keluarga dan kerabat yang hadir untuk menghiburnya.
“Yang meninggal itu apa salah satu keluarga ibu yang menangis itu ya pak?”
“Iya kak bahkan yang meninggal adalah anak semata wayangnya sendiri.”
“Kenapa anaknya bisa meninggal pak?”
“Saya dengar dari kecil anaknya udah punya sakit jantung.”
Melihat semuanya didepan mataku rasanya sakit sekali, aku tidak bisa membayangkan betapa beratnya kehilangan seseorang yang begitu dicintainya. Aku sendiri baru-baru ini kehilangan seseorang yang kucintai, dan meskipun itu sudah cukup sulit bagiku, aku bisa membayangkan bahwa kehilangan anak pasti jauh lebih berat. Mungkin ia akan membayangkan hari-harinya kini akan sepi, tidak ada lagi tawa anaknya, tangisan anaknya, dan ia pasti akan merindukan seseorang yang biasanya memaggilnya ibu.
Setelah jasad dibakar, dilakukan upacara Nuduk Galih dimana keluarga megumpulkan sisa-sisa tulang atau abu jenazah setelah pembakaran, disana aku merasakan keheningan yang mendalam. Semua orang yang hadir tampak sedih dan terpukul. Setelah mengumpulkan sisa-sisa abu jenazah, mereka melakukan prosesi yang terakhir yaitu Nganyut atau Ngelarung dengan menghanyutkan abu jenazah ke laut. Aku merasa terharu saat melihat betapa kuatnya iman mereka dan betapa kuatnya penghormatan mereka terhadap arwah yang telah pergi.
Setelah semua upacara selesai, mereka melakukan upacara pembersihan dan penyucian di rumah duka dengan istilah Mecaru. Aku melihat betapa pentingnya upacara ini dalam membersihkan diri dari kesedihan dan menghormati arwah yang telah pergi.
Terakhir, keluarga dan kerabat melakukan upacara Ngenteg Linggih untuk membangun altar di rumah duka sebagai tanda penghormatan kepada arwah yang telah pergi. Mereka juga melakukan upacara terakhir dengan istilah Nunas Ida Batara untuk memohon doa restu kepada Tuhan.
Setelah semua upacara selesai, aku merasa terharu dan terinspirasi oleh kekuatan dan kehormatan dalam upacara pemakaman tersebut. Aku mengambil pelajaran bahwa meskipun kehilangan seseorang yang dicintai sangat berat, kita harus selalu menghormati mereka dan menghargai kehidupan yang pernah mereka jalani.
Di situ aku mulai berpikir bahwa setiap orang pada hakikatnya pasti akan kehilangan orang-orang terdekat di sekitarnya. Aku merasa bahwa masalahku ini tidak ada separuhnya dibanding seorang ibu yang kehilangan anaknya. Ibu itupun akan melanjutkan perjalanan, begitu juga aku seharusnya. Aku harus berguna. Aku harus melakukan perubahan, setidaknya aku mulai dari diri ini dan siapa tahu akan berdampak ke sekitar. Aku jadi ingat tulisan dalam pigora besar di kamarku: Kuingatkan wahai para pemuda, untuk melakukan perubahan, kalian tidak perlu atribut jabatan, tapi kalian hanya butuh karya! Di bawahnya tertulis: Prof. Rhenald Khasali.
Kita hidup didunia pasti akan mengalami pertemuan dan berujung dengan perpisahan. Setiap perpisahan selalu mengundang luka. Kita butuh upacara-upacara sederhana agar kita mulai berdamai dengan ragam kesedihan. Perlahan kita larung kesedihan-kesedihan itu pada ombak bernama waktu. []
